Senin, 13 April 2015

catatan MSi 3



catatan MSi 3
dalam pertemuan kali ini  matakuliah MSi  kini membahas tentang  Dinamika Perkembangan Studi Islam dan Sikap Keberagaman Intrinsik Dan Ekstrinsik
SIKAP KEBERAGAMAN INTRINSIK DAN EKSTRINSIK
          William james beranggapan tokoh agama adalah Orang yang bisa mengaduk-aduk perasaan.
Dua Macam Cara Beragama
Ada yang beranggapan bahwa tidak ada bukti kuat  bahwa orang-orang beragama  lebih sehat mentalnya daripada orang-orang yang tidak Bergama. Menurut Allport untuk bisa menyatakan demikian kita harus mendefinisikan terlebih dahulu apa arti beragama. Ada dua macam cara beragama: yang ekstrinsik dan yang instrinsik
            Yang Ekstrinsik agama sebagai sesuatu untuk dimanfaatkan, dan bukan  untuk kehidupan  agama disini digunakan untuk menunjang motif-motif lain: kebutuhan akan status,rasa aman atau harga diri. Orang yang Bergama dengan cara ini  melasanakan bentuk-bentuk luar dari agama ,ia puasa, sholat, naik haji, dan sebgainya tetapi tidak didalamnya. Cara beragama seperti ini erat dengan kaitannya Mental
            Yang Intrinsik dianggap menujang kesehatan jiwa dan kedamaian masyarakat, agama dipandang sebagai yang mengatur seluruh hidup seseorang. Cara beragama seperti ini terlihat dengan  nilai-nilai atau hablum minannas (hubungan dengan manusia) secara simbolik cara beragama instrinsik  yaitu peduli dengan orang lain atau menghargai seseorang .

bapak Ngainun Naim pada bab ini  memberikan ulasan yang berkesan sekali untuk saya
beliau mengatakan bahwa :
setiap orang ingin di hargai tetapi tidak semua orang bisa menghargai”
Dari pernyataan yang diberikan oleh bapak Ngainun Naim saya mengambil apa yang beliau sampaikan dan akan membenahi sikap tidak mengharagai walaupun benar kata beliau bahwa menghargai orang lain itu memang susah sekali.
Dari hal tersebut juga beliau mengatakan  bahwa :
semakin sehat psikologi seseorang maka orang tersebut semakin bisa Menghargai orang lain.
Lansung saja pada bahasan dari bab  Dinamika Perkembangan Studi Islam
A.     sejarah  awal studi islam
sebagai sebuah praktek studi islam sesungguhnya sudah berlangsung sejak  awal pertumbuhan islam , yakni pada masa hidup Nabi Muhammad saw. Apa yang dilakukan oleh nabi bersama para sahabatnya dari waktu ke waktu merupakan bentuk studi islam yang sesunggunya.
Studi islam pada masa Nabi berlangsung dalam berbagai bentuk  diantaranya yaitu:
1.      dalam bentuk khutbah
2.      dalam bentuk dialog
3.      dalam bentuk forum-forum diskusi
studi islam berkembang searah dengan perkembangan lembaga pendidikan islam.Ditinjau dari segi kelembagaan  studi mengalami perkembangan dari sorogan dan halaqah dirumah-rumah para alim yang sifatnya individual ke sistem khuttab.
Aspek penting studi islam yang tidak bisa diabaikan  dalam masa keemasan  islam adalah perpustakaan. Perpustakaan adalah aspek penting dlam perkembangan studi islam yang berfungsi sebagai ruang baca ,pusat aktivitas akademis dan ruang diskusi.
Pada masa selanjutnya studi islam berkembang  tidak hanya  di negara-negara islam, tetapi juga masuk ke negara-negara barat . berkembangnya studi islam dibarat di tandai oleh salah satunya penyalinan manuskrip-manuskrip ke dalam bahasa latin sejak abad ke -13 M  hingga bangkitnya zaman bangunan (renaissance) eropa pada abad ke 14.
Implikasi lebih lanjut dari kegiatan penyalinan naskah adalah dimulainya kajian islam  secara serius dalam berbagai dimensinya.

catatan MSi 2



Catatan MSI 2
Pada hari selasa akitivitas perkuliahan dimulai jam ke 2 mata kuliah metodelogi studi islam yang dibimbing oleh bapak  dosen  Ngainun Naim yang penuh kegembiraan atau selingan humornya bikin gak bisa diam pasti ketawa.  Dalam pertemuan ketiga ini bab yang dibahas adalah tentang Tujuan Studi Islam dan Urgensi Metodelogi Studi Islam.
Tujuan Studi Islam
 Secara Garis besar tujuannya adalah:
1.      Mempelajari secara mendalam tentang hakikat islam, bagaimana posisimya dangan agama lain dan bagaiman hubungannya dengan dinamika perkembangan yang berlangsung.
2.      Mempelajari secar mendalam terhadap sumber dasar ajaran agama islam yang tetap abadi dan dinamis serta aktualisasinya sepanjang sejarah. Inti dari studi yaitu agama islam adalah agama samawi terakhir yang membawa ajaran yang bersifat final, mampu memecahkan persoalan kehidupan manusia, menjawab tantangan, dan senantiasa actual sepanjang masa.
3.      Mempelajari secara mendalam terhadap pokok isi ajaran yang asli, dan bagaimana operasionalisai dalam pertumpahan budaya dan peradaban islam
4.      Mempelajari secara mendalam terhadap prinsip-prinsip dan nilai-nilai dasar ajaran islam dan bagaiman perwujudannya dalam membimbing dan mengarahkan serta mengontrol perkembangan budaya dan peradaban manusia pada zaman modern ini.
Urgensi Metodelogi Dalam Studi Islam
Dijelaskan mengenai apa pengertian Metodelogi dan Metode oleh bapak Ngainum Naim
Pengertian Metodelogi adalah Ilmu tentang cara melakukan sesuatu. Sedangkan Metode  adalah prakteknya.
Misalnya : Mengapa anak Gontor pintar Bahasa Inggris dan Bahasa Arab?
1.      Cara mengetahuinya yaitu dengan Observasi(pengamatan)
 Jawabannya : Karena diwajibkan berbahasa (dibiasakan)
2.       Dengan melakukan Wawancara, wawancara dengan Pendekatan aktif yaitu narasumber yang aktif menjawab, dan wawancara dengan Pendekatan pasif  yaitu narasumber tidak banyak bicara.
Jadi kesimpulannya yaitu praktek dari Metodelogi adalah Metode.
lalu apa urgensi MSI???
NAH…
Sekarang saya tahu urgensi mempelajari MSI adalah  agar tahu akan dasar-dasar dari kajian islam dan setalah tahu dasar –dasar tersebut kita akan “ASYIK” Dalam mempelajari kajian islam .

Sabtu, 28 Maret 2015

catatan MSI 1



Transiteralisasi adalah penulisan asing yang di indonesiakan jadi jika ada tulisan bahasa arab yang diindonesiakan bacanya tetap lafal arabnya.
“belajar seharusnya dimaknai dengan perwujudan rasa Syukur”
A.    PENGERTIAN STUDI ISLAM
Istilah studi islam dalam bahasa inggris adalah islamic studies, dan dalam bahasa arab adalah Dirasat al-Islamiyyah. Ditinjau dari sisi pengertian, studi Islam secara sederhana dimaknai sebagai “kajian Islam”. Rumusan Lester Crow dan Alice Crow menyebutkan bahwa studi adalah kegiatan yang secara sengaja diusahakan dengan maksud untuk memperoleh keterangan, mencapai pemahaman yang lebih besar, atau meningkat suatu keterampilan. Kata Islam berasal dari kata aslama yang berarti patuh dan berserah diri. Adapun secara terminologis berarti wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW.
Berikut rumusan pengertian Studi Islam menurut para ahli diantaranya oleh Moh. Nurhakim, yaitu :
1.      Pengkajian dan penelitian terhadap agama sebagai objeknya.
2.      Materi kajian atas Islam.
3.      Institusi-institusi pengkajian Islam.
Sementara menurut Jacques Waardenburg Studi Islam merupakan
1.      Kajian normatif agama Islam dikembangkan oleh sarjana Muslim.
2.      Kajian non-normatif agama Islam dilakukan oleh intelektual Muslim maupun non-Muslim.
3.      Kajian non-normatif dari sudut pandang sejarah, literatur, atau sosiologi dan atropologi budaya dan tidak hanya terfokus pada satu perspektif saja.
B.     Objek Studi Islam
Menurut Taufik Abdullah, agama sebagai sasaran kajian dapat dikategorikan menjadi 3, yaitu agama sebagai doktrin, dinamika dan struktur masyarakat yang dibentuk oleh agama ; agama dalam kehidupan sosial dan dinamika sejarah ; terhadap simbol agama. Sedangkan menurut Moh. Nurhakim juga ada 3, yaitu Islam sebagai doktrin ; sebagai gejala budaya ; dan sebagai interaksi sosial. Berbeda lagi dengan pendapat dari M. Atho’ Mudzhar. Beliau memperkenalkan 5 bentuk fenomena agama sebagai bentuk kebudayaan yang perlu untuk diperhatikan, yaitu:
1.      Naskah-naskah (scripture), atau sumber ajaran dan simbol-simbol agama.
2.      Sikap, perilaku dan penghayatan para penganut atau tokoh-tokoh agama.
3.      Ritus-ritus, lembaga-lembaga, dan ibadat-ibadat agama, seperti sholat, haji, puasa, zakat, nikah dan sebagainya.
4.      Alat-alat atau sarana peribadatan, seperti masjid, peci dan sebagainya.
5.      Lembaga atau organisasi keagaman tempat para penganut agama berkumpul dan berperan.